Monday, 15 November 2010

Kembali

Kembali

Metro, 13 Nov 2010

Akhirnya ia putuskan tuk kembali ke ceruk masa kecilnya. Setelah perjalanan darat tiga hari yang melelahkan itu. Hanya untuk melihat guratan kecil yang dipatrinya dengan bongkahan cadas tajam. Dengan tangan mungilnya waktu itu. Setelah seharian berendam di begawan dekat ceruk. Dan kini, setelah 18 tahun terlewati. Setelah beberapa pulau ia singgahi. Setelah lembar demi lembar manis-getir kenangan terendap dalam memorinya. Ia kembali. Ia yakin guratan itu masih di sana. Akan masih cukup terbaca meski ratusan luruhan hujan telah memburamkannya. Hanya beberapa meter lagi. Ceruk itu semakin dekat. Ia semakin bergegas sebelum akhirnya dihentikan oleh penanda sebuah sms telah masuk ke dalam telpon genggamnya...

***

Di gerbong kereta malam Jakarta-Jogja. Dia duduk di dekat jendela. Jemari halusnya menekan tombol play dan lagu syahdu itu kembali terdengar. Naik kereta malam ku pulang sendiri. Mengikuti rasa rindu. Pada kampung halamanku. Pada Ayah yang menunggu. Pada Ibu yang mengasihiku.

***

Seorang sahabat lama telah menunggunya di stasiun tujuan. Mereka berpelukan tanpa senyuman. Dahi kedua sahabat mengerut. Lalu saling mengangguk. Tanpa kata. Tanpa lip service pernyataan kerinduan. Keduanya berlalu dalam bisu. Dan di atas dua roda mereka tetap saling tak bicara. “I’m hungry. Take me to the place where we used to be!” Sebuah rajukan dalam nada datar, akhirnya memecah kesunyian.

***

“Aku belum jua menemukannya...,” katanya sambil menghela nafas. “Ini terlalu identik dengan teori yang kupelajari. Kenyataan ini telah membuatku takut. Aku masih saja sering bermimpi indah. Berada di dataran asing yang menyenangkan. Melihat hal-hal unik yang menggetarkan syaraf. Dan lihat! Aku masih sering meradang sendirian. Mengapa mimpi-mimpi indah itu hampir semuanya menjadi nyata?”

“Bukankah itu dambaan hampir semua orang?”

“Iya dengan pengecualian,” jawabnya singkat. “Pengecualian bagi orang-orang seperti kamu dan aku. Mimpi indah kita hampir menyerupai blue print kebenaran. Nyaris sempurna tanpa metafora. Tanpa perlambang yang bisa ditafsirkan. Yang termimpikan itulah yang mewujud!’

“Berdoa sajalah,” hibur sang sahabat. “Semoga kita selalu berangkat tidur dalam keadaan bersih jiwa raga. Semoga kita tidak lupa melantunkan doa agar jiwa kita tidak terbang menembus pekat dan terperangkap dalam jelaga malam. Keep on praying! It has been the greatest power on earth.

“Tetap saja itu belum membebaskan dari rasa takut. Semakin banyak mimpiku yang menjadi kenyataan, rasanya semakin dekat aku dengan kekhawatiran mencekam itu.Those facts don’t set me free.

***

Persinggahan dan sua tiga hari dengan sahabat lama, tetap tak mampu menahan mendung hitam yang berarak dalam imajinya. Diputuskan untuk kembali pulang ke pulau jauh. Ke tempat dimana ia memulai menyadari kekuatan mimpi. Kembali ke titik dimana ia membuat lingkaran yang akhirnya terlihat tak berujung-pangkal. Ia telah bertekad merekonstruksi semuanya. No matter what it takes!

***

Angin barat membuatnya limbung. Di dek teratas kapal rute Tanjung Perak-Badas, ia berdiri tegak menatap gemintang malam bertaburan di langit yang tak berbingkai. Ia menghindari keramaian. Mecoba menghubung-hubungkan pecahan peristiwa bertahun. Berdialog imajiner dalam sunyi senyap malam. Tampak, ia tidak terganggu oleh bunyi sirine dan kerlap-kerlip lampu kapal-kapal yang saling berpasan. Ia tersungkur dalam permenungan panjang seolah menerabas sebuah lorong hitam tanpa ada tanda pijar pelita di ujung lorong. “I’m so drained. Why should this happen to me?”

“Mengapa pola-pola itu selalu berulang? Sekian telatah kujelajahi, sekian tempat kusinggahi, sekian individu kutemui, kukira akan ada perubahan pattern. Of those places I’ve been and of those faces I’ve seen akankah hanya merupakan peralihan ruang dan waktu? Tokoh dan latar yang berbeda yang menampilkan skenario yang tak jauh berbeda. Mengapa semuanya begitu nyata dalam alam tidurku? Sampai kapankah aku terbangun hanya untuk menyaksikan sesuatu yang telah kulihat dalam mimpiku? I wake up just to wacth what I’ve seen in my dream?

***

Akhirnya, ia kembali menjejakkan kaki di tanah yang telah begitu lama ditinggalkannya. Ia menggenakan topi, kaca mata hitam, dan sweater kedodoran pemberian sahabat lamanya ketika hendak meninggalkan Jogja. Berharap untuk tidak dikenali. Berkejaran dengan waktu demi menuntaskan rasa penasaran yang terlalu lama telah bergayut. A journey to fulfill an eighteen-year curiosity.

Ia melintasi deretan rumah dan berhenti sejenak di bangunan paling ujung. The house was once his. Di jendela rumah panggung, ia melihat anak lelaki kecil melambaikan tangan. Seolah berkata welcome home! Home sweet home! Lambaian tangan dan interpretasi sporadis itu membuatnya tertegun untuk sesaat. Hanya sesaat. Ia lalu bergegas untuk mengibas rajutan romansa lama yang tiba-tiba menyeruak. “Should I leave all those sweet child memories of mine behind?”, ia menggumam.

***

Beberapa meter lagi. Ceruk itu semakin dekat. Ia semakin bergegas sebelum akhirnya dihentikan oleh penanda sebuah sms telah masuk ke dalam telpon genggamnya. Buddy@Jogja: aku ingat kutipan novel berlatar Nazi. Seorang anak kecil menjadi kurir. Ia tidak tahu yang dibawanya. Ia berjalan tanpa dicurigai. Setelah menjalankan tugas pentingnya sebagai kurir, ia melapor sekalian menanyakan barang apa yang telah dihantarnya. Ia terpaku mendengar jawaban yang diminta. “Andai saja kutahu sebelumnya, aku takkan pernah mau mengantarnya meski kutahu itu adalah dokumen penting yang dapat membebaskan ribuan orang tertindas.Si anak kecil rupanya sadar. Jika saja ia ketahuan oleh musuh membawa dokumen itu, maka kepalanya adalah tukarannya”

Ia mengendurkan langkah. Berdiri skeptis tiga meter dari cerukan. Cukup lama. Lalu ia menelpon sahabat lamanya di Jogja. “I got it! I agree with you. Sometimes, sebuah pertanyaan harus menunggu waktu yang tepat untuk dijawab. Rentang waktu antara pertanyaan dan jawaban adalah misteri. Akan kubiarkan misteri itu tetap menjadi misteri. Aku takut mengetahui jawabannya sekarang. Aku takut jika jawaban itu akan menghalangiku melakukan hal-hal penting yang seharusnya aku lakukan. Thanks anyway, I love you buddy!”

So what are you waiting for? Come back! Mimpikanlah yang indah-indah! Didn’t you ever say that future is made of dream? Ohya, jangan lupa mampir ke Jogja dan bawakan aku sebotol madu putih yang asli. Aku tidak memberimu sweater gratis!”

Dia berbalik setelah berdiri begitu dekat dengan ceruk yang telah begitu lama ingin didatanginya. Sebuah ceruk yang menyimpan guratan misteri masa kecilnya. Ia berjanji untuk melihat guratan tersebut suatu saat kelak. Karena ia yakin guratan itu masih terpatri rapi di sana. Lembab hujan paling hebat akan hanya melumuti guratan, dan hanya dengan beberapa kali usapan saja, guratan itu nantinya pasti akan kembali terbaca. Pasti!

0 comments: