Friday, 9 December 2011

Menghibur Diri

JOGA BONITO[1]

Di sinilah kami menikmati hari. Di kamar sudut lantai dua sebuah kos-kosan di salah satu kota terindah di dunia. Sunyi meski berada di jantung keramaian. Namun, mencari tempat hingar sangatlah mudah. Semudah kau berkemas untuk sebuah liburan satu hari. Benar kata temanku, sesekali aku perlu bersendirian untuk mengetahui bahwa sunyi di tengah keramaian itu benar-benar ada. Ini nyata. TV di dalam pintu kamar yang terkunci, seringkali menjadi teman setia melewati hari-hari ringan tanpa beban berarti. Here I am. Di sinilah aku! Menikmati program komedi TV di tengah kota yang peaceful, quite, and clean.

Kedamaian, suasana tenang, dan lingkungan yang bersih tampaknya telah ditakdirkan untuk meraja di kota ini. Tidak heran banyak orang ingin berkunjung ke sini. Dan jika pernah berkunjung, akan selalu ada setangkup rindu dan harapan untuk bernostalgia kembali. Lihatlah! The sun up and down di setiap kota. Tapi di sini, rutinitas alam tersebut memiliki cerita yang berbeda. Datanglah! Karena teori tentang cinta sungguh jauh berbeda dengan pengalaman cinta itu sendiri. Seribu orang bisa menceritakanmu tentang keindahan. Dan, mengalami keindahan itu meski sekali, mungkin jauh lebih merasuk dibanding segala cerita indah. Maksud saya, berkunjung sekali ke kota ini, mungkin lebih baik dari pada mendengar cerita dari seribu orang yang pernah mengunjunginya.

Oh ya, di sini saya belajar mengajar. Learn how to teach. Ada tutor native speakers yang ramah, antusias, dan hampir selalu bisa membesarkan hati. Mereka ibarat empu yang pandai membuat pedang. Mereka bisa melihat gompalan besi dan merapikannya. Mampu melihat karat dan menjamasnya hingga nyaman digunakan kembali. Pedang kami bukan untuk membunuh. Pedang ini untuk mempertahankan diri dari pembunuhan. Ada naga besar ingin menelan kami sementara yang kami miliki adalah sebuah tusuk gigi. Sungguh kami tidak memiliki kesanggupan membunuh naga dengan tusuk gigi. Kami butuh samurai, katana, atau pedang buatan empu. Naga besar itu bernama Tantangan Zaman, sedang berdiri gagah beberapa inci di depan mata. Jika tidak bersiap, kami hanya punya satu pilihan. Tergerus zaman!

Menurutmu, adakah yang lebih menyedihkan daripada tergerus zaman? Dirimu tergerus dalam keadaan tidak terbius. Mata kepalamu menyaksikan zaman melindas tubuhmu tanpa kau mampu berbuat sesuatu. You’re paralyzed. Kau terkungkung. Ragamu tak mampu kau gerakkan meski hatimu sangat menginginkannya. Padahal sebelumnya, alam memberimu alarm untuk segera menemui seorang empu. Memintanya mengajarimu membuat pedang yang kuat, tajam, panjang, balanced, hingga mampu kau ayunkan dengan mudah untuk menumbangkan sang naga. Ah ayolah! Wake up! Pelan-pelan, kuburkan semua keindahan yang hanya mungkin kau dapatkan di dunia fantasimu. Make your dreams come true! Konversikan keindahan virtual itu ke dunia nyata-mu! Come on, you know this!

Seorang guru atau empu yang baik biasanya akan berkata, “Stop telling yourself you can’t do that!” Tarik dirimu. Tarik ke titik di mana engkau menyadari bahwa engkau sudah tidak bisa lagi ditarik. Tarik ke titik maksimal. Jangan sampai putus! Ingat! Ini pelajaran membunuh naga. It’s gonna be a long road. Ini pembelajaran yang lama. Tidak instan. Jauh dari suasana menyenangkan. Bukan materi yang bisa dikuasai setahun dua tahun. It is a windy road actually. Kita sedang menuju puncak. Jalannya tidak pernah berubah. Selalu berliku dan melelahkan. Lupakan kata orang tentang cara cepat, shortcut, dan suasana menyenangkan, fun. Selama mendaki, silakan kau hibur dirimu. Hatimu boleh saja terhibur, tapi kelelahan itu tak dapat kau hindari. Ayo mendaki sambil bernyanyi! Sampai bertemu di puncak gunung, summit!

Kesunyian adalah anugerah

Kau berbincang dengan hatimu

Melihat duniamu lebih jernih

Menyusun rencana harimu

Keramaian adalah karunia

Kau bertemu sang empu

Kau melihat ada naga besar

Kau belajar bermain pedang

Pendakian itu melelahkan

Perlu terus menghibur diri

Melangkahlah sampai titik penghabisan

Jangan tergoda oleh jalan singkat menyenangkan

Denpasar, 9 Desember 2011



[1] Katanya, Joga Bonito adalah istilah Brazil tentang filosofi bermain bola. Artinya, bermain indah atau bermain dengan hati. Kemenangan itu penting, namun menang dengan cara-cara yang indah jauh lebih penting.

0 comments: